Kamis, 1 September 2011 Institut Pertanian Bogor genap berusia 48 tahun. Sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk tetap istiqamah dalam perjuangannya memajukan bangsa dari aspek pertanian. Sebuah cita-cita luhur sebagian besar dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa IPB ketika awal pertamakali berangkat masuk dan kuliah di IPB, ingin memajukan pertanian dan berjuang mengangkat derajat petani Indonesia. Ya itu beberapa harapan yang muncul di benak mahasiswa IPB dan hal itu harus benar-benar diperhatikan oleh IPB.
Tidak berlebihan jika deskripsi di atas saya buat. Bukan hiperbola belaka, tapi lebih dari itu. IPB, 48 tahun mengemban amanah yang besar. Memajukan Indonesia melalui pertanian tropika (secara luas). Itulah yang dulu dicontohkan oleh Mohamad Kasim Arifin.
“Seorang Lelaki di Waimital” mampu mendeskripsikan sosok Kasim dengan baik. Beliau berjuang untuk petani transmigran yang miskin. Berbekal ilmu yang di dapatkan di kampus, dia bejibaku berperang dengan terik matahari. Hanya bermodal sendal jepit dan kaos oblong, bersama masyarakat petani menggarap sawah. Di kisahkan dalam sebuah puisi “Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari ini Pulang ke Almamaternya” karya Taufik Ismail, bahwa Kasim orang yang istiqamah dalam berjuang bersama masyarakat.
Tidak hanya Mohamad Kasim Arifin. Jika di jaman Taufik Ismail ada Mohamad Kasim Arifin, maka di jaman Rektor IPB sekarang, Prof. Herry, ternyata juga ada mahasiswa yang istiqamah berjuang untuk petani hingga akhir hayatnya. Dia adalah Heru Yuwono. Bahkan beliau teman karib Prof. Herry sejak masih di SMA dulu.
Di ceritakan pula bahwa Heru Yuwono adalah sosok yang kuat dalam berjuang. Dia bergerak dengan syair-syairnya. Berjuang membentuk kelembagaan berupa yayasan, koperasi, dan lain sebagainya untuk memajukan pertanian Indonesia, lebih tepatnya untuk petani kecil Indonesia.
Kebesaran seorang Heru Yuwono baru penulis sadari ketika beliau telah tiada. Pakde Nono, itulah panggilan khasnya. Ketika mengikuti pengajian mengenang Bapak Heru Yuwono, Rektor IPB, Prof. Herry Suhardyanto menyampaikan bahwa almarhum Heru Yuwono adalah sosok yang humanis. Sejak SMA almarhum telah memperlihatkan bahwa almarhum adalah sosok yang istiqamah dalam perjuangannya. Sebagaimana yang disampaikan pula oleh “Kiai Kanjeng”, MH. Ainun Nadjib bahwa almarhum Heru Yuwono adalah Seniman hebat.. orang yang berjuang di tengah rakyat.. Anak-anakku, anak-anaknya Mas Heru, jangan lupa! Jangan pernah lupa! Setiap sholat, setiap mau makan, ingatlah, ingatlah ayahmu, dan doakanlah.’
Lantas apa hubungannya dengan ulang tahun IPB yang ke 48 ini? Mungkin jika orang lain membaca tulisan saya akan berkomentar tidak ada hubungan, terlalu dipaksa antara diskripsi satu dengan yang lain. Ya mungkin apa yang di sampaikan oleh pembaca ada benarnya, tapi juga bisa saja salah.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk melihat makna ulang tahun. Tidak hanya untuk IPB, untuk kita semua. Ya IPB telah genap 48 tahun usianya. Saya teringat dengan beberapa cerita-cerita yang disampaikan oleh beberapa alumni IPB angkatan 17-26 an. Beliau-beliau menceritakan kegembiraannya kuliah di IPB. Saat di IPB benar-benar merasakan sebuah semangat untuk berjuang demi kemajuan petani, memantapkan kepada siapa kita berpihak. Itulah beberapa yang disampaikan beberapa alumni. Bahkan ketika era itu, IPB sangat terkenal dengan “KAMPUS RAKYAT”. Sebuah kebanggaan tersendiri. Sekolah di “Kampus Rakyat” dengan biaya yang terjangkau tetapi dengan fasilitas yang sangat baik di jaman itu. Bahkan ada beberapa guyonan nakal, kalau di IPB pinter nggak harus doktor, di Gajah Mada kalau pengen pinter harus doktor, di Bandung kalo doktor belum tentu pinter. hehee. Itu adalah guyonan nakal beberapa alumni.
Yang terpenting di sini adalah bagaimana IPB tetap menjaga keistiqamahannya untuk tetap menjadi “Kampus Rakyat” dengan kualitas yang baik. Serta memunculkan kembali semangat-semangat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Mohamad Kasim Arifin dan Heru Yuwono. Atau kita hanya sekedar mencari gelar sebagai kampus bertaraf internasional belaka? Sekalian aja bertaraf dunia dan akhirat, tapi tunggu dulu akhiratnya siapa ini? Harus jelas juga.







Kampoes Rakjat!
hahah iya kawan.
permisi…
cuman mau share video bayi yg senyumnya cute bgt. kali aja jadi terhibur ngelihatnya
Assalamu’alaikum wr wb
Mas Adi, maaf saya baru sempat mampir. Subhanallah..
Sudah berapa kali orang-orang menyampaikan banyak fakta tentang ayah yang tidak saya ketahui dan baru saya ketahui setelah Ayah tiada. Bertambah satu lagi posting ini yang membuat saya terharu..
Sama, Mas.. Saya merasa bersyukur bisa berada di IPB, meneruskan perjuangan Ayah dan Ibu (dua-duanya produk asli IPB hhe). Ketika membaca ini jadi semakin semangat untuk berjuang memajukan pertanian Indonesia..
Terima kasih banyak, Mas..
iya mbak, sy jg tahunya setelah mengunjungi pengajian mengenang almarhum, ketika itu ada Cak Nun. sipsip.
iya ibu mbak nisa kan fapet. hehehe..okelah semangat kuliahnya..
salut untuk para pejuang rakyat yang sempat mengecap pendidikan terbaik di kampus rakyat..saya tertarik dengan gelar kampus rakyatnya..sepertinya hal itu sudah tidak relevan lagi sekarang..IPB seperti halnya kampus2 berplat merah negeri ini telah lama membenamkan dirinya di dalam deretan kampus mahal negeri ini..sepertinya ada yang salah dengan manajemen pendidikan di negeri ini..seperti halnya orang miskin dilarang sakit, begitu pula mereka di larang mengubah nasibnya melepas keterbelengguan diri…sebuah ironi lagu klasik yang tak lagi terdengar merdu…
hanya sebatas opini dangkal seorang alumni..mohon dimaafkan jika ada kata yang tidak berkenan..
Dirgahayu yang ke 48 Kampus tercinta, tetap jaya almamater ku ..semoga bisa segera tak lagi jadi Kampus Mahal Negeri ini..
E37
Julay Zulham
sipsipsip thanks atas komennya. iya, meskipun dilihat diantara 5 kampus besar, memang kampus IPB secara pembayaran masih lebih murah dari 5 kampus yang lain. tetapi yang menjadi hal yang penting adalah, ternyata basic kompetensi IPB kan pertanian. ya menurut saya tataran akar rumput yang mempunyai kemampuan lebih secara akademik seharusnya juga dipertimbangkan dengan baik untuk dapat belajar di sini. pun dimanapun
Banyak juga temen-temen SMA aku yang kuliah di IPB, jadi kampus ini gak asing di Pontianak.. selamat ya buat IPB semoga makin jaya di bidang pertania
Oalahh.. Kampus rakyat.. Rakyatnya siapa? Berjuang untul petani? Petaninya siapa? Oalahh le,, ndukk,, sing penting hidup ayem, tentrem, halal, dan saling membantu.